Filipina Selatan (initogel) — Aktivitas alam kembali menunjukkan denyutnya di kawasan selatan Filipina. Dalam kurun satu hari, tercatat 25 kali gempa vulkanik mengguncang wilayah tersebut, menandakan meningkatnya aktivitas di sistem gunung api yang tengah dipantau secara ketat.
Sebagian besar gempa memang tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. Namun frekuensi yang tinggi menjadi sinyal penting bagi para ahli—bahwa pergerakan magma dan tekanan di bawah permukaan masih berlangsung.
Getaran yang Tak Selalu Terasa
Gempa vulkanik berbeda dari gempa tektonik yang biasa mengguncang permukiman. Banyak di antaranya hanya terekam oleh alat seismograf, tanpa menimbulkan guncangan berarti di permukaan.
Meski demikian, bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan gunung api, informasi tentang aktivitas ini tetap memicu kewaspadaan. Beberapa warga melaporkan suara samar atau getaran ringan, terutama pada malam hari.
“Kadang tidak terasa, tapi kami tetap berjaga,” ujar seorang warga desa di wilayah selatan. “Kalau alam sudah bergerak, kami tidak boleh lengah.”
Sinyal dari Perut Bumi
Para pengamat menjelaskan bahwa gempa vulkanik merupakan bagian dari proses alamiah gunung api. Ia sering muncul ketika magma bergerak, gas terakumulasi, atau terjadi penyesuaian struktur batuan di bawah permukaan.
Frekuensi 25 kali dalam sehari menunjukkan adanya aktivitas yang intens, meski belum tentu langsung mengarah pada letusan. Karena itu, pemantauan terus dilakukan untuk membaca arah perkembangan selanjutnya.
“Gempa vulkanik adalah bahasa gunung,” ujar seorang pengamat kebencanaan. “Tugas kita adalah mendengarkan dan memahami.”
Warga Hidup Berdampingan dengan Gunung
Di Filipina selatan, hidup berdampingan dengan gunung api adalah bagian dari keseharian. Banyak komunitas telah terbiasa dengan status waspada, jalur evakuasi, dan tas siaga yang selalu siap.
Anak-anak diajarkan sejak dini apa yang harus dilakukan jika aktivitas meningkat. Orang tua memantau informasi resmi dan saling mengabari melalui komunikasi lingkungan.
“Kami tidak panik,” kata seorang ibu rumah tangga. “Tapi kami selalu siap.”
Imbauan Tetap Tenang dan Siaga
Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum jelas, dan mengikuti arahan resmi. Aktivitas di zona rawan di sekitar gunung api juga diminta untuk dibatasi demi keselamatan.
Selain itu, warga diminta memperhatikan tanda-tanda alam lain, seperti perubahan bau gas, suara gemuruh, atau peningkatan suhu di sekitar kawasan gunung.
Belajar dari Pengalaman
Filipina merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia. Pengalaman panjang menghadapi erupsi dan gempa membuat kesiapsiagaan menjadi bagian dari budaya kebencanaan.
Setiap peningkatan aktivitas, sekecil apa pun, diperlakukan sebagai pengingat untuk memperkuat koordinasi dan kesiapan.
“Alam memberi tanda,” ujar seorang relawan kebencanaan. “Tugas kita adalah menghormatinya.”
Menunggu dengan Kewaspadaan
Hingga kini, gempa vulkanik yang terjadi masih berada dalam pengawasan ketat. Tidak ada kepanikan, namun kewaspadaan ditingkatkan. Warga melanjutkan aktivitas sehari-hari sambil terus memantau perkembangan.
Di Filipina selatan, bumi kembali bergetar—tidak untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa di wilayah yang hidup berdampingan dengan gunung api, ketenangan dan kesiapsiagaan adalah dua hal yang harus berjalan bersama.
Dan selama alat pemantau terus bekerja, harapan warga pun sama: agar aktivitas alam ini tetap terkendali, dan kehidupan dapat berjalan tanpa gangguan lebih besar.