Aceh (cvtogel) — Di balik deru alat berat dan tenda-tenda darurat yang berdiri di tanah basah, ada luka yang tak kasatmata. Bukan hanya rumah yang roboh, sawah yang terendam, atau harta benda yang hanyut. Banyak penyintas bencana di Aceh memikul beban yang lebih sunyi: rasa takut yang belum reda, kehilangan yang belum sempat diratapi, serta kecemasan akan hari esok.
Di titik inilah kehadiran negara menjadi lebih dari sekadar bantuan logistik. Kementerian Agama (Kemenag) turun langsung memberi dukungan psikososial—upaya memulihkan daya lenting batin para penyintas agar mereka mampu bangkit, perlahan namun pasti.
Mendengar, Menenangkan, Menguatkan
Di posko-posko pengungsian, para pendamping psikososial Kemenag menyapa dengan cara yang sederhana: duduk sejajar, mendengarkan, dan memberi ruang untuk bercerita. Tidak semua orang siap berbicara, dan itu dipahami. Dukungan psikososial bukan soal memaksa, melainkan menemani.
“Trauma sering kali bersembunyi di balik diam,” ujar salah satu pendamping di lokasi. “Kami hadir untuk memastikan para penyintas tidak merasa sendirian.”
Pendampingan dilakukan melalui konseling individu dan kelompok, kegiatan ibadah bersama, serta pendekatan keagamaan yang menenangkan. Doa, zikir, dan penguatan nilai-nilai spiritual dipadukan dengan teknik psikologis dasar agar penyintas—anak-anak, orang dewasa, hingga lansia—mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan mereka.
Anak-anak, Prioritas yang Dijaga
Bagi anak-anak, bencana sering terasa seperti dunia yang runtuh tiba-tiba. Tangis yang datang tanpa sebab, mimpi buruk, hingga ketakutan berlebihan adalah tanda-tanda yang kerap muncul. Tim Kemenag menyiapkan ruang ramah anak: sudut bermain, cerita, menggambar, dan aktivitas edukatif yang dirancang untuk memulihkan rasa aman.
Di ruang ini, tawa perlahan kembali terdengar. Bukan untuk melupakan bencana, melainkan untuk memberi jeda—agar anak-anak bisa kembali merasakan masa kanak-kanaknya, meski dalam keterbatasan.
Perempuan dan Kelompok Rentan
Pendekatan khusus juga diberikan kepada perempuan dan kelompok rentan. Kehilangan peran domestik, tekanan ekonomi, serta kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga kerap menumpuk menjadi beban ganda. Sesi berbagi dan konseling kelompok menjadi ruang aman untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan membangun kembali kepercayaan diri.
Pendamping memastikan bahwa setiap penyintas diperlakukan dengan martabat, tanpa stigma, serta memiliki akses yang setara terhadap layanan dukungan.
Sinergi Kemanusiaan
Upaya psikososial ini tidak berjalan sendiri. Kemenag bersinergi dengan pemerintah daerah, relawan lintas lembaga, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Kolaborasi ini penting agar pendampingan berkelanjutan dan selaras dengan kearifan lokal Aceh yang kuat dalam nilai kebersamaan dan religiusitas.
Tokoh agama setempat dilibatkan sebagai jembatan kepercayaan. Nasihat yang membumi, bahasa yang akrab, dan keteladanan menjadi kekuatan untuk menenangkan hati penyintas.
Lebih dari Sekadar Pulih
Bencana memang meninggalkan jejak panjang. Namun, dengan pendampingan yang tepat, penyintas tidak hanya pulih—mereka belajar berdiri kembali dengan kekuatan baru. Dukungan psikososial membantu menata ulang harapan, mengelola duka, dan menyiapkan langkah menuju pemulihan sosial.
“Pemulihan bukan soal cepat atau lambat,” kata seorang pendamping. “Yang penting, tidak ada yang ditinggalkan.”
Harapan yang Terjaga
Di Aceh, di antara sisa-sisa lumpur dan puing, harapan tetap menyala. Kehadiran Kemenag melalui dukungan psikososial menjadi pengingat bahwa keselamatan publik tidak berhenti pada fisik semata. Kesehatan mental, ketenangan batin, dan rasa aman adalah bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan.
Ketika bantuan datang dengan empati, dan negara hadir dengan hati, para penyintas menemukan kembali pegangan. Pelan-pelan, mereka menatap hari esok—bukan tanpa luka, tetapi dengan keberanian untuk melangkah lagi.